Sama sepertimu, aku juga pernah.

Sepertimu, aku juga pernah mengalami masa-masa ketika engkau merasa bahwa semua manusia didunia ini sama saja. sama busuknya, sama munafiknya. Sama penipunya.
**

Engkau menganggap semua pejabat tukang curi uang negara. Engkau menganggap semua calon presiden sampai semua calon kades tukang janji, tukang PHP. Bahkan kau pernah menganggap orang tua yang mengemis didepan rumahmu adalah tukang tipu yang berkedok pengemis. Pengamen, sopir, dokter, perawat, diplomat, polisi, tentara, pilot, tukang sapu jalanan, tukang becak, semuanya kau anggap penipu, semua kau anggap munafik, sampai pada akhirnya engkau bertemu seseorang yang mengubah pandanganmu.

**

Dia bukan Bruce Lee apalagi Angelina Jolie, bukan juga sosok idaman hati. Dia, hanya pemulung tua yang selalu menyempatkan diri untuk sholat Jum’at di masjid dekat rumahmu. Awalnya kau anggap dia hanya modus belaka. Memanfaatkan Sholat Jum’at sebagai peruntungan, berharap dibelaskasihani oleh para jamaah Masjid. Tapi kau salah, sesampainya di masjid, setelah mengambil bungkusan hitam dari karung miliknya, dia meletakkan karung itu dekat tempat sampah. Kau tampak tersenyum, 2 cm lebih panjang kearah kiri.

**

Matamu terus saja memperhatikan gelagat pak tua itu, dia masuk ke kamar mandi masjid, lamaaa semenit, duamenit, tiga menit, empat menit, sepuluh menit berlalu. Lagi-lagi kau tersenyum tak simetris, kau berfikir untung ini masih jam 11, belum banyak jamaah masjid yang datang, jadi si Tua itu bisa leluasa menggunakan kamar mandi.

**

Kau kembali melirik jammu, 15 menit berlalu tepat saat pintu kamar mandi masjid terbuka. Kau terbelalak, melihat pak Tua lusuh tadi berganti pakaian, tak sebagus milikmu memang. tapi itu yang terbagus yang dia punya. Baju Koko putih, sarung putih kotak-kotak dengan peci hitam yang dipakai agak miring kekanan. Kau ingin sekali tertawa, tapi masih mampu kau tahan. Prasangka burukmu pada si bapak tua itu berkurang 10%. Kau masih menganggap bahwa dia sedang berakting agar mendapatkan lebih banyak simpati dari jamaah masjid.

**

Pak tua itu berjalan menghampirimu, yang sedari tadi duduk diselasar masjid sendirian memperhatikannya. Tapi, sebelum sampai padamu. Ia teringat dengan bungkusan hitam yang belum ia letakkan. Maka ia meletakkan bungkusan hitamnya ketempat semula, karung rongsokannya. Kemudian, ia kembali berjalan menghampirimu. Kau mulai tampak kikuk, seperti sedang didekati bidadari, atau lebih tepat polisi.

**

Pak tua itu menyalamimu, lalu berjalan kearah dalam masjid. Mengambil mushaf dan membacanya. Sayup-sayup kau dengar lantunan suaranya. Bacaannya lebih bagus darimu, kau mulai tertunduk malu. Prasangka jelekmu pada pak Tua itu, berkurang 50%. Hingga akhirnya, sepulang sholat Jum’at. Ada seorang jamaah masjid yang menyodorkan uang padanya, kau berfikir bahwa modusnya berhasil. Tapi lagi-lagi kau salah, si bapak tua itu justru kebingungan, dia melempar pandang kesegala arah hingga ia menemukan sebuah kaleng cat yang sudah didandani didalam masjid. Iya betul !! dia meletakkan semua uang yang diterimanya dari sidermawan tadi kedalam kaleng itu, caranya persis seperti ia meletakkan uang pada celengan dirumahnya. Matamu seakan tak percaya. Akhirnya kau mendekati pak tua itu, mendengar banyak ceritanya, termasuk ketaatannya pada Rabbnya. Hingga membuatmu sadar, bahwa manusia yang cita cita terbesarnya bukan dunia, masih ada.

**

Juni, 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s