Mastatho’tum [Bagian Satu]

“aku lho nggak belajar. Aku nggatau mau belajar apa. Please za, don’t be too worry. Everything gonna be alright. Kamu itu jadi orang terlalu perfeksionis lho. Kamu darah apa sih?” kataku ketus pada wanita didepanku yang sedari tadi tak henti membolak-balik halaman buku yang dipegangnya. Mengkhawatirkan ujian yang sebentarlagi akan kami hadapi. Padahal menurut cerita teman-teman yang sudah menempuh kelas ini, Ujiannya tidaklah sehoror apa yang ada dalam bayangan wanita berkerudung ungu didepanku ini. Setelah mendengar ucapanku, ia menengadahkan wajahnya untuk menatapku dari balik kacamatanya, lalu mengalihkan perhatiannya ke langit-langit kelas yang warna catnya baru saja diperbarui.

“Da” panggilnya.

Suara sayupnya berlomba dengan suara bising seisi kelas yang tengah asik menceritakan ujian yang baru saja usai beberapa menit lalu.

“iya?”, kataku sembari menatap wajah ovalnya.

“aku juga nggatau mau belajar apa. Tapi seenggaknya aku mbaca, Da. Seenggaknya aku berusaha. Masak iya Allah mau ngasih aku nilai bagus, kalau aku nggak berusaha? Urusan nanti yang diujikan ternyata ndak sama dengan apa yang aku baca, ya sudahlah itu urusan lain, Da. Yang penting ya itu tadi. Aku udah berusaha.” Wanita yang selalu memanggilku ‘Da’ itu mengakhiri kalimatnya dengan menatap jam di lengan kanannya.

Aku terperanjat mendengar responnya. Kini aku yang bergantian menatapnya dalam. Aku mencerna setiap huruf yang baru saja keluar darinya. Aku semakin terperanjat saat menyadari bahwa kalimat panjangnya teringkas menjadi satu kalimat sederhana, satu kalimat yang sudah sangat familiar bagiku. Kalimat yang tercetak tebal dihalaman pertama buku kuliahku, MASTATHO’TUM. kalimat ‘Seenggaknya aku berusaha, Da. Masak iya Allah mau ngasih aku nilai bagus, kalau aku nggak berusaha?’-nya berulangkali berputar dikepalaku.

Selama ini aku yang berulang kali menyampaikan mastatho’tum pada adik-adik binaanku, adik-adik angkatan, kakak angkatan pejuang skripsi, bahkan pada diriku sendiri. Bagiku mastatho’tum adalah kalimat terampuh selain Manjadda Wa Jadaa. Tapi ternyata mastatho’tumku belum sepenuhnya bekerja. Justru dia, gadis perfeksionis yang tidak tahu menahu tentang mastatho’tum berhasil mengaplikasikan  mastatho’tum yang sebenarnya :’).

 

Terimakasih untuk pelajaran hari ini, Za.

 

Note : *cerita tentang Mastatho’tumnya kapan kapan ya.

April 7th, 2016

Ditengah rempongnya memahami Syntax.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s